UJI KOMPETENSI GURU ONLINE 2012

Uji kompetensi bagi guru bersertifikat dilakukan secara bertahap pada akhir Juli-September ini. Uji kompetensi guru ini dibutuhkan untuk pemetaan kompetensi guru yang menjadi titik awal pembinaan dan penilaian kinerja guru. Oleh karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mewajibkan guru untuk mengikuti uji kompetensi. Untuk tahun ini, uji kompetensi bagi guru bersertifikat diikuti 1.020.000 guru di jenjang TK-SMA/SMK sederajat.

Ketua Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemdikbud, Syawal Gultom, di Jakarta, Senin (9/7/2012), mengatakan, uji kompetensi guru bersertifikat yang pertama untuk guru SMP.

Sampai saat ini, terdata 3.000 lokasi ujian. “Lalu nanti bergantian yang TK, SD, dan SMA/SMK sampai September. Sekarang, guru-guru yang harus ikut uji kompetensi sedang diverifikasi,” kata Syawal.

Terkait adanya ancaman boikot sejumlah organisasi guru, Syawal meminta guru untuk tidak khawatir dengan uji kompetensi ini karena tujuannya untuk pemetaan, bukan kelulusan atau berkaitan dengan pembayaran tunjangan profesi guru. “Uji kompetensi guru wajib buat guru. Yang tidak ikut rugi karena nanti tidak memiliki dasar untuk pembinaan yang juga sebagai syarat untuk penilaian kinerja guru yang dimulai tahun 2012,” ujar Syawal.

Unifah Rosyidi, Kepala Pusat Pengembangan Profesi Pendidik, Badan Pengembangan Sumber Daya Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, Kemendikbud, menambahkan, pihaknya membuat 189 model bidang studi. Di antaranya, 121 bidang keahlian di SMK. Untuk tiap model dibuat tiga paket, baik yang secara online maupun offline. “Cara ini untuk mencegah kecurangan di antara para guru,” ujar Unifah.

Menurut Unifah, uji kompetensi guru ini memang menilai kemampuan pedagogik dan profesional. Namun, data uji kompetensi guru hanya sebagai data awal. Nanti, dalam penilaian kinerja guru ada empat kompetensi guru, mulai dari kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial juga dinilai secara berkala oleh kepala sekolah, guru senior, dan pengawas. (edukasi.kompas.com).

Jadwal UKG 2012 Online

Uji Kompetensi Guru atau UKG akan digelar secara bertahap. Tahap awal, akan diikuti guru jenjang SMP mulai 30 Juli 2012. ’Untuk jadwal selanjutnya, akan diikuti oleh guru SD, SMA maupun SMK,” ungkap Kepala Badan Pengembangan SUmber Daya Manusia Pendidik dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP), Syawal Gultom di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (9/7).

“Hanya saja, ujian ini tidak akan ada pengumumannya. Pasalnya, hasil ujian ini hanya akan digunakan untuk data kementerian atau pemerintah. Sehingga, pemerintah mengetahui peta kompetensi guru-guru di Indonesia,” ujarnya.

Lantas, bagaimana dengan nasib guru yang tetap menolak UKG? Syawal menjawab, pemerintah tidak akan memaksa. “Terserah saja, jika mereka tidak mau. Pastinya mereka akan rugi sendiri karena tidak akan mendapatkan pembinaan dan tidak akan dimasukkan dalam peta kompetensi guru Indonesia yang dimiliki oleh kementerian,” imbuhnya. (sumber: jpnn).

Waktu Pelaksanaan UKG

a. Untuk Guru Bersertifikat Pendidik
Untuk Guru
Dikelompokkan berdasarkan jenjang pendidikan. Dimulai dari jenjang SMP; selanjutnya SMA dan SMK; dan terakhir TK, SD, SLB. Waktu Pelaksanaan : 30 Juli 2012 s.d. 12 Agustus 2012

b. Untuk Guru belum bersertifikat pendidik
Untuk guru yang belum bersertifikat pendidik UKG dilaksanakan pada tahun 2013
(Sumber : Pedoman UKG)

Kisi-Kisi Uji Kompetensi Guru atau UKG:

1.  Pedoman UK Guru

2.  Matematika SMP
3.  IPA SMP
4.  Bahasa Inggris SMP

5.  Antropologi
6.  Bahasa Arab
7.  Bahasa Inggris sma
8.  Biologi sma
9.  Bimbingan Konseling (BK)
10.  Ekonomi
11.  Fisika sma
12.  Fisika smk
13.  Guru Kelas SD
14.  IPA smk
15.  Kimia
16.  Matematika sma
17. Penjas sma
18.  Pendidikan Kewarganegaraan
19.  Sejarah sma
20. Sosiologi
21.  TIK
22.  Test UK Paedagogik
23.  Uji Kompetensi Guru
24.  Soal Uji Kompetensi Kepribadian
25.  Soal Uji Kompetensi Pedagogik
26.  Soal Uji Kompetensi Sosial

Latihan Ujian Kompetensi Online:

Bagi Bapak/Ibu Guru yang ingin berlatih ujian secara online silahkan Klik disini.

CONTOH SOAL UKG (UJI KOMPETENSI GURU)

SOAL  MATA PELAJARAN

DOWNLOAD

VIEW MATERI

¤  Soal Uji Kompetensi Guru Biologi SMA MA

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru PKn SMA MA SMK

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru Matematika SMA MA SMK

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Bahasa Indonesia SMA

 Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Bahasa Inggris SMA

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Bahasa Inggris SMP

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Penjas SMA

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Kimia

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru TIK

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru Akuntansi

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Teknik Otomotif

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru Sosiologi Antropologi

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru Matematika SMP

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru BK

Download

View

¤  Soal Uji Kompetensi Guru Seni Budaya

Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru PKn SMA

Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru PKn SMP

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompotensi Guru SD

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompotensi Guru Penjas Orkes SD

Download

View

¤  Uji Kompetensi Guru Profesi Mapel Bahasa Indonesia SMP

Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru IPS SMP

Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru Profesional Guru Taman Kanak-Kanak

Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru Profesi Mapel Sejarah SMA MA SMK

 Download

View

¤  Soal Tes Kompetensi Guru Profesi Bahasa Inggris

Download

View

¤  Soal Tes Uji Kompetensi Guru IPA

Download

View

Semoga Bermanfa’at.

Categories: Tak Berkategori

Ebook Tutorial Membuat TTS untuk Pembelajaran

24 December 2011 Leave a comment

Salam Hangat Bagi Bapak/Ibu Guru.

Ebook tutorial membuat TTS ini sangat mudah dipelajari dan diterapkan. Langkah  demi langkah dijelaskan secara rinci, mudah  dan praktis. Berbagai bentuk dan jenis TTS dapat dibuat oleh guru dalam waktu yang sangat singkat. Tidak perlu mengatur soal dan jawaban mendatar atau menurun. Secara otomatis akan diatur oleh aplikasi TTS Creator.

TTS yang telah selesai dikerjakan dapat diprint out atau dipriint dalam bentuk file sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu.

Bermanfaat bagi Guru-guru dalam mengembangkan variasi pembelajaran serta kreativitas guru.

Daftar Isi:  Instalasi Software TTS Eclipse-Crossword; Menjalankan Program TTS Eclipse-Crossword ; Membuat TTS Baru; Menyimpan TTS; Mengedit TTS; Menambah soal TTS; Menghapus dan Mengganti Soal TTS; Mencetak TTS; Mencetak dalam bentuk file pdf; Instalasi Software free easy  word to pdf converter; Menentukan default printer pdf; Mencetak TTS dalam file Pdf dengan printer tinyPDF; Menyimpan dalam format web html; Mempublikasikan TTS.

 

Donasi: Rp 10.000,-

Ditransfer ke Bank Muamalat Cabang kota Tebing Tinggi.

Nomor Rekening 9108193399 a.n. Purnawanto.

Pemesanan ebook dan konfirmasi melalui email:  purnawanto@gmail.com.

Kami akan mengirim ebook Tutorial Membuat TTS untuk Pembelajaran ditambah software TTS Creator dan Software print to file ke email Bapak/Ibu Guru.

Terima Kasih.

SIFAT KEPITING

Saat menjelang malam hari di tepi pantai, terlihat para nelayan melakukan kegiatan yakni menangkap kepiting yang biasanya keluar dari sarang mereka di malam hari. Kepiting-kepiting yang ditangkap oleh nelayan, sebagian kecil akan menjadi lauk santapan sekeluarga, sebagian besar akan di bawa ke pengumpul atau langsung ke pasar untuk dijual.

Para nelayan itu memasukkan semua kepiting hasil tangkapan mereka ke dalam baskom terbuka. Menariknya, baskom tersebut tidak perlu diberi penutup untuk mencegah kepiting meloloskan diri dari situ. Ada yang menarik dari tingkah laku kepiting-kepiting yang tertangkap itu. Mereka sekuat tenaga selalu berusaha keluar dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat, tetapi jika ada seekor kepiting yang nyaris meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan berusaha keras menarik kembali ke dasar baskom. Begitulah seterusnya, sehingga akhirnya tidak ada seekor kepiting pun yang berhasil kabur dari baskom, sebab itu lah para nelayan tidak membutuhkan penutup untuk mencegah kepiting keluar dari baskom. Dan kemudian mati hidupnya si kepiting pun ditentukan keesokan harinya oleh si nelayan.

Sungguh menarik kisah dari sifat kepiting tadi, mengingatkan kita pada kehidupan manusia. Kadang tanpa disadari, manusia bertingkah laku seperti kepiting di dalam baskom. Saat ada seorang teman berhasil mendaki ke atas atau berhasil mencapai sebuah prestasi, yang seharusnya kita ikut berbahagia dengan keberhasilan itu, tetapi tanpa sadar, kita justru merasa iri, dengki, marah, tidak senang, atau malahan berusaha menarik atau menjatuhkan kembali ke bawah.

Apalagi dalam bisnis atau bidang lain yang mengandung unsur kompetisi, sifat iri, tidak mau kalah akan semakin nyata dan bila tidak segera kita sadari, kita telah menjadi monster, mahluk yang menakutkan yang akhirnya akan membunuh hati nurani kita sendiri.

Gelagat manusia yang mempunyai sifat seperti halnya sifat kepiting yaitu :
1. Selalu sibuk merintangi orang lain yang akan menuju sukses sehingga lupa berusaha untuk memajukan diri sendiri.
2. Selalu mencari dan menyalahkan pihak di luar dirinya
Pembaca yang berbahagia,
Tidak perlu cemas dengan keberhasilan orang lain, tidak perlu ada menyimpan iri hati apalagi tindakan yang bermaksud menghalangi teman atau orang lain agar mereka tidak maju. Buang pikiran negatif seperti itu!

Karena sesungguhnya, di dalam persaingan bisnis atau persaingan di bidang apapun, tidak peduli berakhir dengan kemenangan atau kekalahan, masing-masing dari kita mempunyai hak untuk sukses!

Success is our right!

Jika kita bisa menyadari bahwa ! Success is our right, sukses adalah hak kita semua! Maka secara konsekwen kita bisa menghargai setiap keberhasilan orang lain, bahkan selalu siap membantu orang lain untuk mencapai kesuksesannya.
Untuk itu, dari pada mempunyai niat menghalangi atau menjatuhkan orang lain, jauh lebih penting adalah kita siap berjuang dan sejauh mana kita sendiri mengembangkan kemampuan dan potensi kita seutuhnya. Sehingga hasil yang akan kita capaipun akan maksimal dan membanggakan!

Sumber: blog tazkiroh

KISAH POHON APEL

25 October 2010 Leave a comment
Sebagian dari kita mungkin sudah pernah membaca cerita ini tapi apa salahnya saya muat kembali di pages ini buat saudara-saudara kita yang belum pernah membaca cerita ini dan sebagai bahan review buat yang sudah pernah membaca. Semoga bermanfaat………

Suatu masa dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar.Seorang kanak-kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya.

Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut. Masa berlalu… anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

” Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja itu.

” Aku mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada yang sedih.

Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan.”

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.

Masa berlalu…

Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membina rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?” Tanya anak itu.

“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memberikan cadangan. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong ke semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudiannya merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa.

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu.

“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai perahu. Bolehkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu.

“Aku tidak mempunyai perahu untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan gembira,” kata pohon apel itu.

Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu.

Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin di mamah usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.

“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan nada pilu.

“Aku tidak mahu apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mahu dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mahu batang pohonmu kerana aku tidak berupaya untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua itu.

“Jika begitu, istirahatlah di perduku,” kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.

Tahukah kamu. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka.
Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari bapak setiap tahun.

Allah SWT berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang tua kita biarpun mereka sudah tidak ada di dunia fana ini….Mari kita doakan mereka : Ya Allah ampunilah dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami di waktu kecil”. Amin.

Handphone (HP) dan Prestasi Belajar Siswa

15 August 2010 Leave a comment

Handphone (HP) dan Prestasi Belajar Siswa

Pagi itu suasana kelas VII-3 sangat hening ketika bu Fristy menjelaskan konsep penjumlahan bilangan bulat. Siswa kelas VII-3 sangat antusias memperhatikan penjelasan guru matematika mereka. Konsentrasi memang diperlukan agar mereka dapat memahami konsep penjumlahan bilangan bulat. Namun, semua perhatian tiba-tiba beralih ketika sebuah nada dering HP dengan syahdu berdering. Bu Fristy pun terdiam sejenak mencari di mana sumber bunyi tersebut berasal, tetapi dengan tenang ia tetap melanjutkan proses pembelajaran, sejenak kemudian bu Fristy memberi latihan agar dikerjakan siswa.

Sembari berkeliling memberi penjelasan dan bimbingan (scaffolding) kepada siswa, bu Fristy menyelidiki siapa gerangan yang membawa HP. Tiba-tiba nada dering HP berdering kembali tepat di belakang bu Fristy. Secara spontan bu Fristy menggeledah tas Franky dan mendapatkan sebuah HP canggih yang baru. Franky menjelaskan bahwa HP tersebut bersih dari foto dan video tidak senonoh, namun bu Fristy tidak mudah percaya dengan penjelasan Franky. Justru bu Fristy menjadi curiga dengan sikap Franky. Akhirnya bu Fristy menahan HP tersebut yang memang ada aturan sekolah yang melarang siswa membawa HP ke sekolah.

Dengan bantuan guru TIK sekolah, bu Fristy mengetahui bahwa banyak video tidak senonoh terdapat pada HP tersebut. Keesokan harinya, orangtua Franky dipanggil ke sekolah untuk proses penyelesaian masalah HP Franky. Ibu Franky meneteskan air mata dan menyesal telah membelikan HP kepada Franky. Ternyata ungkapan rasa sayangnya dengan membelikan HP kepada Franky malah menjadi racun bagi masa depan Franky. Dengan geram ia melampiaskan kekesalannya pada Franky.

Penomena Gunung Es

Kasus Franky merupakan satu kasus dari ratusan bahkan jutaan pelajar yang terungkap ke permukaan. Masih banyak lagi kasus yang tidak terungkap tersembunyi nyaman karena ketidakpedulian orangtua, guru, sekolah dan masyarakat terhadap perilaku negatif generasi muda. Bayangkan, sekolah dengan tegas telah melarang siswa membawa HP ke sekolah namun Franky tetap membawa HP yang berisi video cabul. Bagaimana pula yang terjadi jika sekolah tidak melarang? Mungkin ada aktivitas siswa yang menyebarkan video cabul tersebut.

Handphone dan Manfaatnya Bagi Pelajar

Kemajuan teknologi komunikasi telah banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, secara khusus juga bermanfaat bagi dunia pendidikan terutama dalam proses pembelajaran, baik dalam proses perencanaan pembelajaran, pengelolaan pembelajaran serta penilaian pembelajaran. Produk teknologi yang saat ini lagi marak adalah handphone (selanjutnya baca HP) mampu memperpendek jarak yang jauh, sehingga dapat saling berkomunikasi pada saat bersamaan dan kapan saja. HP banyak membantu komunikasi antar individu dan bahkan antar kelompok dengan berbagai fasilitas layanan yang disediakan jasa telekomunikasi.

Penggunaan HP dalam dunia pendidikan merupakan sebuah permasalahan yang perlu dikaji secara mendalam karena dalam pikiran kita sepertinya HP hanya berguna untuk menyampaikan Short Message Service (SMS), mendengarkan musik, menonton tayangan audiovisual, dan game. Tak ada manfaat yang berarti sehingga harus dilarang untuk dibawa dan dipergunakan siswa di lingkungan sekolah. Sebenarnya, HP juga dapat bermanfaat bagi kalangan pelajar jika digunakan untuk kepentingan belajar. HP yang dapat terhubung dengan layanan internet akan membantu siswa menemukan informasi yang dapat menopang pengetahuannya di sekolah. Namun, pada kenyataannya sangat sedikit pelajar yang memanfaatkan pada sisi ini, HP yang mereka miliki umumnya digunakan untuk sms-an, main game, dengar musik, nonton tayangan audiovisual, serta facebook-an.

Dampak Positif dan Negatif HP

HP memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif HP berupa sarana pengiriman pesan singkat/SMS dan sarana panggilan antar selular. Kelebihannya, kita bisa menghubungi siapapun, di manapun, dan kapanpun kita mau.  Secara umum dampak positif HP sebagai berikut;

1)      Mempermudah komunikasi

Melalui HP komunikasi dengan orangtua, teman, bahkan pacar (jika punya) akan menjadi mudah dan cepat. Informasi dan berita apapun dapat dikomunikasikan dengan cepat ke tujuan.

2)     Menambah pengetahuan.

Jika dimanfaatkan secara positif dengan bantuan layanan internet, HP dapat digunakan untuk menambah pengetahuan pelajar. Melalui Wikipedia.org siswa dapat mengeksplorasi ilmu pengetahuan yang mereka butuhkan, tentunya masih banyak lagi website yang berbasis Ensiklopedia dan pengetahuan yang bisa di browsing melalui HP.

3)     Memperluas jaringan persahabatan.

Dengan terkoneksi dengan jaringan internet seperti layanan email, facebook, netlog, HP juga dapat digunakan untuk memperluas jaringan persahabatan.

Dampak negatif yang ditimbulkan oleh HP:

1)        Konsentrasi belajar menurun

Dengan canggihnya fitur-fitur yang tersedia di hand phone (HP) seperti: kamera, permainan (games) akan mengganggu siswa dalam menerima pelajaran di sekolah? Tidak jarang mereka disibukkan dengan menerima panggilan, sms, miscall dari teman mereka bahkan dari keluarga mereka sendiri. Lebih parah lagi ada yang menggunakan HP untuk mencontek (curang) dalam ulangan. Bermain game saat guru menjelaskan pelajaran dan sebagainya. Kalau hal tersebut dibiarkan, maka generasi yang kita harapkan akan menjadi budak teknologi.

2)       Efek radiasi

Penggunaan HP juga berakibat buruk terhadap kesehatan, ada baiknya siswa lebih hati-hati dan bijaksana dalam menggunakan atau memilih HP, khususnya bagi pelajar anak-anak. Jika memang tidak terlalu diperlukan, sebaiknya anak-anak jangan dulu diberi kesempatan menggunakan HP secara permanen.

3)       Rawan terhadap tindak kejahatan.

Memiliki HP yang canggih dan mahal sangat berisiko bagi pelajar untuk jadi target kejahatan. Pelajar merupakan salah satu target utama dari pada penjahat.

4)      Sangat berpotensi memengaruhi sikap dan perilaku siswa.

Penggunaan HP oleh siswa, jika tidak ada kontrol dari guru dan orang tua dapat memengaruhi perilaku siswa. HP dapat digunakan untuk menyebarkan gambar-gambar dan video yang mengandung unsur porno dan sebagainya yang sama sekali tidak layak dilihat seorang pelajar.

5)       Pengeluaran menjadi bertambah/boros

Pada umumnya, siswa memaksa orangtuanya untuk dibelikan HP, kemudian siswa meminta uang kepada orangtua untuk membeli pulsa setiap bulan bahkan setiap hari.

6)      Meningkatnya video porno dan kata-kata yang tidak senonoh

Akibat yang sangat berbahaya oleh siswa adalah penggunaan HP dengan tujuan yang menyimpang seperti mengisi video porno ke dalam HP dan menggunakan kata-kata yang tidak senonoh. Tak sedikit pelajar yang ketahuan menyimpan video dan foto yang tidak senonoh di HP mereka. Di samping itu juga HP digunakan untuk tukar-tukaran jawaban ujian.

Dampak negatif HP biasanya ditemukan pada HP yang cukup canggih yang memiliki fitur kamera, internet, dan bluetooth yang memudahkan pengguna HP untuk menyimpan dan sharing data-data yang tidak sepatutnya untuk disimpan. Untuk itu, diperlukan solusi untuk memecahkan masalah tersebut agar siswa (generasi muda) tidak rusak moralnya hanya karena kecanggihan teknologi seperti HP. Jadi, langkah-langkah yang harus dilakukan adalah mencari kesibukan dan fokus terhadap kesibukan kita. Sehingga, siswa tidak hanya menyibukkan diri dengan HP saja. Serta siswa memanfaatkan HP dengan baik dan seperlunya saja. Sehingga, siswa dapat menghindari komunikasi yang sia-sia dan membuang-buang waktu dan biaya. Yang terpenting, siswa juga mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta mempertahankannya.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian Rahmi Ariyanti Agustin di SMPN 2 Mojokerto menyatakan bahwa mayoritas siswa cenderung menghabiskan banyak waktu untuk menggunakan fasilitas–fasilitas yang terdapat di dalam HP. Keberhasilan HP menggerogoti pikiran orang, tak disadari imperialisme budaya pun merajalela. Kini HP menjadi penghuni utama sakunya anak didik. Mayoritas anak didik mengantongi HP. Mereka merasa PD dengan HP dan seolah-olah menyatakan dirinya “saya orang modern, saya orang teknologi”). Budaya tradisional semakin jauh ketinggalan oleh gaya hidup mewah. Yang menyedihkan HP dapat menurunkan prestasi belajar dan sikap-sikap buruk lainnya.

Muhammad Syafti Pebrianda, Dian Febriasari, Iman Adi Thaib, Lia Nita Hafiva, Mardiana, Diah Anggreni, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara melakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh penggunaan handphone terhadap perilaku anak SMA melalui angket kuisioner yang disebar kepada anak SMA yang berasal dari beberapa sekolah menengah atas yang ada dikota Medan didapati bahwa ada hubungan yang signifikan antara penggunaan HP oleh kalangan anak SMA terhadap perilaku negatif mereka. Berdasarkan hasil penelitian bahwa mayoritas siswa cenderung menghabiskan waktu mereka untuk memainkan fasilitas game yang tersedia didalam HP tersebut, atau dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarkan MP3 atau menggunakan fasilitas yang lain yang tak jarang yang dilakukan yaitu dengan menyendiri dan cenderung menjauh dari komunitas yang ada.

Tindakan Preventif

Memang menjadi dilema bagi orangtua untuk tidak membelikan HP pada anaknya. Jika harus membeli HP seharusnya orang tua harus mampu memproteksi permata hatinya dari pengaruh negatif dari HP. Secara berkala orang tua harus memeriksa isi HP putra-putrinya. Bagi sekolah yang tidak melarang siswanya membawa HP harus secara berkala melakukan razia terhadap penggunaan HP agar siswa terjamin bebas dari pengaruh destruktif HP.

Bagi orangtua, ada beberapa isyarat untuk mencurigai perilaku anaknya yang telah menyimpan file gambar atau video tidak senonoh. Adapun perilaku tersebut;

  • Anak tidak meletakkan HP sembarangan di rumah
  • Orang lain tidak dibenarkan untuk membuka HP-nya termasuk orangtuanya.
  • Anak selalu menyendiri dan asyik dengan HP-nya

Jika anak/siswa telah menunjukkan perilaku di atas, sebaiknya orang tua harus dengan paksa memeriksa isi HP anaknya sebagai upaya preventif agar anak terbebas dari pengaruh negatif HP. Berdasarkan paparan di atas, sangatlah wajar jika beberapa sekolah mengambil kebijakan melarang siswanya membawa HP ke sekolah sebagai upaya preventif dan kepedulian terhadap masa depan siswanya.

Semoga Bermanfaat.

Sumber:

Anonim. (2008). Pengaruh HP terhadap Siswa. Internet Resource.

Rahmi Ariyanti Agustin SMP. (2008) Pengaruh HP. Internet Resource

Mendidik Anak Dengan Cinta

15 August 2010 Leave a comment

Mendidik Anak Dengan Cinta

Pagi itu karena keletihan Arie terlambat bangun, dengan nada keras ibunya memanggil: ”Arie…! Bangun! Sudah jam berapa ini?! Bukan kau saja yang ibu urusi”. Arie pun tersentak bangun. Arie turun ke lantai bawah dan disambut ayahnya dengan sorot mata tajam serta membentak: ”Cepat mandi! Apalagi yang kau tunggu!. Setelah sarapan Arie berangkat ke sekolah. Arie datang terlambat dan gurunya berkata:” Dasar anak pemalas! Sudah jam berapa ini, memangnya ini sekolahmu, sesuka hatimu saja kau datang!”.Waktupun berlalu, dan ketika belajar matematika Arie tak dapat menyelesaikan soal latihan di depan kelas, guru matematikanya berkata: ”Bodoh kali kau, begitu aja nggak bisa. Apa makanan mu?!”.

Cerita di atas hanya cerita belaka, namun sering kali terjadi dalam kehidupan anak, baik di rumah maupun lingkungan sekolah yang memformat proses pendidikan. Tanpa disadari, apa akibat yang terjadi pada perkembangan psikologis serta emosional anak jika anak terus menerus mendapat perlakuan seperti ini? Para pendidik sudah pasti mengerti apa yang akan terjadi pada diri anak tersebut, jika anak tersebut mendapat perlakuan, cercaan, hujatan seperti itu. Inikah yang namanya pendidikan?

Makna Mendidik

Mendidik sering dimaknai sama dengan mengajar. Sebenarnya, mendidik lebih luas maknanya dibandingkan dengan mengajar. Mendidik dapat dilakukan dengan cara mengajar. Memang, mendidik dan mengajar sering dimaknai secara tumpang tindih. Mendidik anak dapat dilakukan oleh orangtua di rumah, juga oleh guru di sekolah. Orangtua di rumah, tanpa disadari juga melakukan proses pendidikan. Hal ini kurang disadari oleh sebagian besar orangtua. Justru sebagian besar pembentukan mental anak dibentuk oleh pendidikan yang berlangsung di rumah. Ketika anak berada di rumah, orangtualah yang menjadi gurunya. Suatu hal yang perlu diingat, tingkah laku ‘guru’ akan menjadi faktor yang penting dalam proses pendidikan, karena tingkah laku ‘guru’ akan menjadi suri teladan bagi murid-muridnya.

Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait mengait dan saling  pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain. Pertama, sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation). Kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model).

Tiga Prinsip Pendidikan

Tiga syarat penting dalam proses mendidik dan mengajar yang pertama adalah cinta, kedua adalah kepercayaan, dan ketiga adalah kewibawaan. Ketiga syarat ini saling mempengaruhi dan saling kait mengait. Cinta akan menimbulkan kepercayaan. Seorang Ibu menyusui anaknya dengan rasa cinta. Seorang Bapak menimang-nimang anaknya dengan rasa cinta. Ketika sang anak ditimang-timang atau bahkan di angkat-angkat ke atas. Mengapa sang anak tidak takut jatuh? Karena sang anak memiliki kepercayaan kepada sang Bapak. Sang anak percaya bahwa Bapaknya tidak akan menjatuhkannya. Seterusnya, kepercayaan sang anak inilah yang menghadirkan kewibawaan bagi sang Bapak. Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kewibawaan akan lahir jika ada kepercayaan. Anak akan menurut atau mengikuti perintah dan arahan dari Bapak karena adanya kepercayaan kepada sang Bapak, atau dalam hal ini guru akan diikuti perintahnya oleh peserta didik jika peserta didik menaruh kepercayaan kepada gurunya. Itulah tiga syarat terjadinya proses pendidikan dan pengajaran.

Seorang siswa Sekolah Dasar di negara Chad, ketika ditanya tentang guru yang bagaimana yang mereka inginkan, ia menyatakan  “Guru yang baik akan memperlakukan siswanya seperti anaknya sendiri. Dia akan menjawab semua pertanyaan meskipun pertanyaan bodoh (Fatmoumata [11 tahun] dari Chad). Seorang sastrawan kondang dari Madura, D. Zawawi Imron, menyatakan bahwa “Guru yang baik ialah yang menganggap semua muridnya sebagai anak-anaknya sendiri, yang setiap hari akan mendapat curahan kasih sayangnya. Guru yang baik ialah yang memberikan masa depan cemerlang dengan membekali anak didiknya dengan visi yang tajam dan ilmu yang menjanjikan. Guru yang demikian adalah guru yang berjasa meskipun tanpa diberi tanda jasa. Guru yang demikian substansinya adalah pahlawan”. Lebih dari itu, cinta kasih guru kepada semua siswanya tanpa pilih kasih haruslah dilandari dengan kejujuran. Bapak pendiri Amerika Serikat menyatakan “Honesty is the first chapter in the book of wisdom. Kejujuran adalah bab pertama dalam buku kebijaksanaan (Thomas Jefferson).

Mengapa Harus Sayang

Berbuat sayang kepada anak (anak didik), sama sekali bukan berarti harus menuruti semua permintaan anak. Orangtua terlebih dahulu memahami pendapat dan keinginan anak yang sering konyol serta tidak masuk akal, kemudian dengan penuh kasih sayang mengarahkannya untuk mengerti batas antara boleh dan tidak.

Perkataan kasar dan pemberian hukuman adalah hal yang tidak diingini semua anak (bahkan orang dewasa), walaupun menurut orangtua semua itu demi kebaikan anaknya semata. Yang dirasakan anak hanyalah bahwa kemarahan itu menjadi bukti ketidaksenangan orangtua kepadanya. Maka, satu kunci yang paling ampuh dalam mendidik anak adalah dengan berlaku lemah lembut penuh cinta kasih walaupun dalam keadaan marah sekalipun.

Menurut Ery Soekresno, Psi, cinta (kasih sayang) memberikan rasa aman dan nyaman sehingga anak-anak akan mengembangkan rasa percaya diri pada lingkungannya. Cinta terbukti dapat mencerdaskan anak. Anak yang dicintai orang tuanya akan lebih cerdas dibanding mereka yang hidup dalam lingkungan kurang kasih sayang. Pada akhirnya dia anak menjadi anak yang penuh percaya diri,” ujar Ery.

Psikolog ini melanjutkan bahwa anak yang dididik dengan penuh cinta tidak akan menjadi keras, liar dan kejam atau memiliki perilaku bermasalah bahkan sampai menjadi korban narkoba. “Cinta juga memberi kesempatan pada anak untuk memperbaiki kesalahannya,” ujar psikolog dari Sumayyah Training & Consultant ini.

Bersikap Empati

Dengan marah atau membentak, memang dapat segera menyelesaikan sesuatu masalah namun pragmatis sifatnya. Dengan marah, Arie segera bangun dan mandi. Namun, kemarahan dapat menyisakan rasa anti pati pada diri anak, apalagi hujatan dan kecaman. Hujatan dan kecaman tidak akan membawa perubahan berarti pada diri anak, namun anti pati dan ketidakpercayaan.

Untuk itu, alangkah indahnya jika orangtua maupun guru dapat bersikap empati terhadap anak.                Sikap empati, mau menghayati perasaan anak, hendaknya diberikan orang tua maupun guru dalam mendidik anak. Perasaan merupakan indikasi seseorang butuh atau tidak butuh sesuatu. Kalau anak terlihat sedih, artinya dia membutuhkan kedekatan, kehangatan. Kalau perasaannya bahagia, berarti kebutuhannya sudah terpenuhi. Kalau tampak bingung, mungkin pilihan di hadapannya tidak ada yang sesuai. “Jadi yang menjadi acuan dalam pendidikan atau pengasuhan yang baik adalah perasaan si anak, bukan tuntutan lingkungan,” demikian ucap psikolog Dra. Pamugari Widyastuti.

Jangan Cinta Bersyarat

Menurut psikolog Dra. Pamugari Widyastuti , cinta bersyarat adalah sikap orang tua yang baru memberikan kasih sayangnya kalau si anak menjadi anak baik, berprestasi, atau memberi kebanggaan pada keluarga, dan sebagainya. Jika anaknya baik, orangtua akan berkata: “ini baru anak mama”,  atau kata-kata lain yang menunjukkan rasa cinta dan sayang. Namun, kalau tidak, orang tua hanya akan memberikan kasih sayangnya yang sudah “didiskon“; bisa-bisa si anak malah kena “likuidasi” alias tak disayangi lagi. “Hal itu memang tidak terungkap secara eksplisit dari orang tua”.

Suatu hal yang kurang adil dalam mendidik anak adalah ketika anak dalam kondisi benar, anak jarang diberi pujian (afirmasi), namun ketika anak dalam kondisi salah, anak habis-habisan di cerca dan di marah seolah-olah anak tak pernah berbuat benar.

Harga Ciuman Seorang Ibu

Bernie Siegel, baru-baru ini melakukan penelitian tentang ‘khasiat ciuman’ seorang ibu bagi anak-anaknya maupun seorang istri bagi suaminya. Ciuman sang ibu merupakan wujud cinta dan kasih  sayang yang tulus dari seorang ibu. Hasilnya cukup menakjubkan.

Seorang anak yang diberangkatkan ke sekolah oleh sang ibu dengan kecupan sayang ternyata memberi dampak yang luar biasa dalam prestasi sekolahnya, meredam kemarahan anak untuk tidak berkelahi di sekolah.

Suami yang pergi ke kantor bekerja dengan ciuman sang istri lebih memiliki kemungkinan kecil untuk mengalami kecelakaan di perjalanan dibanding mereka yang berangkat kerja tanpa kecupan mesra sang istri. Kualitas dan antusias bekerjapun mengalami perbedaan yang cukup signifikan. Disamping itu, kecupan tulus sang istri mampu meminimalkan kemungkinan hadirnya WIL (wanita idaman lain).

Pengaruh Perlakuan pada Anak

Di bagian akhir tulisan ini, mari kita renungkan ungkapan Dorothy Law Nolte dalam buku The Learning Revolution; “Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian. Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan. Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar  kedermawanan. Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikirannya.

Semoga Bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Dryden G; & Jeannette Vos, (2002). Revolusi Cara Belajar. Bandung: Penerbit Kaifa.
  2. Istadi, Irawati, (2003). Mendidik Dengan Cinta. Jakarta: Pustaka Inti.
  3. Marpaung, Parlindungan, (2006). Setengah Isi Setengah Kosong. Jakarta: MQS Publishing.
  4. Internet Resource

Mendidik Anak dengan Keteladanan

14 August 2010 Leave a comment

Mendidik Anak dengan Keteladanan

Alkisah pada suatu masa di sebuah desa, hiduplah seorang ruhaniawan yang sangat alim dan rajin membantu serta melayani ummatnya. Bahkan, terdengar khabar bahwa do’a-do’anya yang di bacakan untuk menyembuhkan orang sakit sangat makbul.

Suatu hari, seorang anak di desa tersebut merasa sedih karena sapi satu-satunya miliknya sakit dan tidak bisa mengeluarkan susu seperti biasanya sehingga ia tak bisa menjual susu untuk keperluan dirinya. Masa itu tidak ada dokter hewan untuk mengobati sapinya. Dalam keputus-asaannya ia teringat kepada sang ruhaniawan yang hidup di desanya.

Akhirnya, ditengah malam yang dingin diiringi hujan lebat si anak pergi menemui sang ruhaniawan untuk meminta pertolongan sang ruhaniawan untuk mendo’akan sapinya agar sembuh seperti sediakala sehingga ia dapat menikmati susu segar sapi tersebut serta menjualnya.

Timbul rasa enggan dan meremehkan dalam hati sang ruhaniawan mengingat yang datang hanyalah seorang anak kecil, apalagi yang sakit hanyalah seekor sapi, bukan manusia, lagipula hujanpun turun. Namun, karena desakan  sang anak kecil yang penuh iba, ia pun berangkat.

Sesampainya di kandang sapi, sang ruhaniawan pun berdo’a dengan penuh kekesalan, “Wahai sapi, kalau kau mau sembuh, sembuhlah, jangan menyusahkan orang. Tetapi kalaupun akhirnya kau mati, matilah”.

Setelah itu sang ruhaniawan pun pulang. Beberapa waktu kemudian, kondisi sapipun pulih dan perlahan-lahan sembuh, bahkan dapat mengeluarkan susu sehingga sang anak dapat menikmati susu kembali. Sang anakpun gembira dan semakin kagum kepada sang ruhaniawan.

Selang beberapa bulan kemudian, karena usia sudah tua, sang ruhaniawan pun jatuh sakit. Berita sakitnya sang ruhaniawan terdengar oleh sang anak. Ia ingin sekali membalas budi kepada sang ruhaniawan yang telah sudi berdo’a untuk kesembuhan sapinya. Iapun memutuskan untuk berangkat melawat sang ruhaniawan dan mendo’akan agar sang ruhaniawan sembuh.

Sesampainya di sana, didapati sang ruhaniawan terbaring lemah di tempat tidur. Ia pun minta izin untuk mendo’akan sang ruhaniawan, lalu iapun berdo’a: “ Wahai Bapak, kalau kau mau sembuh, sembuhlah, jangan menyusahkan orang. Tetapi kalaupun akhirnya kau mati, matilah”.

Esensi Pendidikan

Keteladanan merupakan syarat utama dalam suatu proses pendidikan. Tidak ada makna pendidikan jika tidak ada keteladanan. Dalam Pembukaan Diklat Integrasi Imtaq, Prof. Suyanto, Ph.D menyatakan bahwa pendidikan memiliki tiga proses yang saling kait mengait dan saling  pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lain. Pertama, sebagai proses pembentukan kebiasaan (habit formation). Kedua, sebagai proses pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning process), dan ketiga adalah sebagai proses keteladanan yang dilakukan oleh para guru (role model).

Di samping itu, tiga syarat penting dalam proses mendidik dan mengajar yang pertama adalah cinta, kedua adalah kepercayaan, dan ketiga adalah kewibawaan. Ketiga syarat ini saling mempengaruhi dan saling kait mengait. Cinta akan menimbulkan kepercayaan.. Seterusnya, kepercayaan akan menghadirkan kewibawaan. Kewibawaan adalah kemampuan untuk dapat mempengaruhi orang lain. Kewibawaan akan lahir jika ada kepercayaan. Kepercayaan akan muncul jika ada keteladanan.

Teorema Tabularasa

Anak-anak bisa diibaratkan sehelai kertas putih yang masih kosong. Lingkunganlah yang memberi warna pada kertas putih tersebut. Mereka memiliki ketergantungan yang tinggi, membutuhkan pertolongan, perlindungan serta rasa aman. Syekh Naraqi, seperti dikutip Baqir Sharif al-Qarashi dalam bukunya Kiat-kiat Menciptakan Generasi Unggul: Seni Mendidik Islami (Pustaka Zahra: 2003), berkata, “Anak-anak yang terabaikan pada tahap paling awal perkembangannya kebanyakan akan memilih akhlak yang buruk. Mereka terutama akan lebih berdusta, iri serta keras kepala dan menjadi pencuri, pengkhianat, serta kurang ajar. Dalam kasus lainnya, anak semacam itu lemah, tak bermoral dan suka pamer.”

Sejalan dengan pendapat di atas, Neno Warisman (pengelola Yayasan Buah Hati), mengatakan bahwa dalam membelajarkan sesuatu kepada anak, pada intinya kita harus menyertakan tiga unsur yakni hati, telinga dan mata. Dia mencontohkan, ketika orang tua mengenalkan sopan-santun, maka sebaiknya mereka tak hanya memberikan nasehat atau perintah, tapi juga contoh nyata. Tanpa contoh nyata (keteladanan) perintah ataupun nasehat tidak akan bertahan dalam waktu lama. Apalagi yang ingin ditanamkan pada anak berupa nilai-nilai moral/etika dan nilai keagamaan.

Sejatinya saat berkenaan dengan nilai agama, nilai moral/etika memang tidak cukup jika orang tua/pendidik hanya cuma memberikan petuah dan perintah saja. “Mereka memerlukan dukungan yang lebih penting, yakni keteladanan agar setiap nilai yang hendak disampaikan menjadi lebih bermakna.”

Tak hanya itu, Dr. Seto Mulyadi (Kak Seto) juga menegaskan dari semua hal yang perlu diajarkan kepada anak, unsur keteladanan dari orang tua berada di posisi teratas. “Anak-anak di usia dini akan mudah meniru apa pun yang dilihatnya. Jadi, ketika orang tua menerapkan perilaku terpuji dan bertutur kata yang halus, itu sudah merupakan permulaan pendidikan agama (etika) kepada anak-anak,” kata dia.

Tugas Pendidik

Sejatinya ada dua tugas utama para pendidik yang harus melekat dalam proses pendidikan, yaitu transformasi ilmu dan transformasi nilai. Tidak seimbang jika suatu institusi pendidikan hanya mengisi dimensi intelektualnya semata, namun mengabaikan dimensi emosional dan etika peserta didik. Untuk itu, para pendidik selain cerdas dan trampil dalam mentransfer ilmu pengetahuan sekaligus menjadi sosok “yang digugu dan di tiru”. Seorang pendidik yang tidak memiliki dimensi keteladanan akan menjadi sosok yang tidak mendapat rasa simpatik dari anak didiknya, tetapi bisa menjadi justru sebaliknya mendapat cemooh dari anak didiknya.

Pepatah “Kalau gurunya kencing berdiri maka muridnya kencing berlari” adalah sebuah gambaran bahwa dari diri seorang pendidik sangat diperlukan sebuah transformasi nilai. Alangkah naifnya dan kontradiktifnya jika seorang pendidik melarang anak didiknya berkuku panjang sementara sang pendidik berkuku panjang. Alangkah antagonisnya jika orang tua menyuruh anaknya shalat, sementara orangtuanya tidak shalat.

Dalam pandangan J. Sudarminta, pendidikan nilai-nilai kehidupan sebagai bagian integral kegiatan pendidikan pada umumnya adalah upaya sadar dan terencana membantu anak didik mengenal, menyadari, menghargai, dan menghayati nilai-nilai yang seharusnya dijadikan panduan bagi sikap dan perilaku sebagai manusia dalam hidup perorangan dan bermasyarakat. Pendidikan nilai akan membuat anak didik tumbuh menjadi pribadi yang tahu sopan-santun, memiliki cita rasa seni, sastra, dan keindahan pada umumnya, mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, bersikap hormat terhadap keluhuran martabat manusia, memiliki cita rasa moral dan rohani. “Pendidikan nilai-nilai kehidupan tidak dapat berlangsung baik kalau tidak ditunjang keteladanan pendidik dan praksis sosial yang kontinu dan konsisten dari lingkungan sosial,” ujarnya.

Sedangkan Tony Soehartono menyatakan, proses belajar-mengajar harus mencakup tiga ranah pendidikan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Namun, konsep pendidikan di Indonesia cenderung mengarah pada ranah kognitif, sedangkan ranah afektif dan psikomotorik ditempatkan pada peran sekunder. “Pendidik secara terus-menerus harus diberi pemahaman bahwa nilai-nilai kehidupan tidak bisa begitu saja diajarkan, tetapi harus disertai keteladanan oleh pendidik itu sendiri,” katanya.

Semoga Bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Istadi, Irawati, (2003). Mendidik Dengan Cinta. Jakarta: Pustaka Inti.
  2. Marpaung, Parlindungan, (2006). Setengah Isi Setengah Kosong. Jakarta: MQS Publishing.

Internet Resource